Bukan Sekadar Padamkan Api, Kini Jadi Tumpuan Warga Minahasa untuk Evakuasi Darurat
forummedia.id, MINAHASA – Tugas Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Pemerintah Kabupaten Minahasa kini kian dinamis dan tidak lagi sebatas menjinakkan si jago merah. Petugas di lapangan kerap menjadi tumpuan warga dalam berbagai aksi penyelamatan darurat (rescue) hingga evakuasi non-kebakaran.
Kepala Dinas Damkar Minahasa, Drs. Melky Luvy Rumate MSi, menjelaskan bahwa instansinya saat ini menyentuh berbagai aspek layanan publik lainnya. Selain tugas utama memadamkan api, pihaknya sering kali menerima laporan beragam dari masyarakat untuk penanganan situasi yang mengancam keselamatan di pemukiman.
“Kami juga sering dihubungi warga untuk evakuasi hewan liar dan berbahaya, sarang tawon, hingga penanganan anjing sakit. Petugas Damkar sering kali langsung turun ke lapangan begitu menerima laporan tersebut,” ujar Lutfi saat diwawancarai forum.id, kemarin.
Meski tuntutan tugas meluas, Damkar Minahasa dihadapkan pada tantangan berat berupa luasnya wilayah yang mencakup 25 kecamatan, sementara sarana prasarana yang dimiliki sangat terbatas. Saat ini, Damkar Minahasa hanya diperkuat oleh 5 dan 1 unit suplai (mobil tangki) armada operasional yang masing-masing berkapasitas 4.000 liter. Beberapa unit lainnya diketahui sudah dalam kondisi tidak layak pakai.
Keterbatasan ini memaksa pihak Damkar menerapkan strategi khusus dalam penanganan bencana. “Kalau pun ada kejadian, dua armada harus tetap tinggal (di posko) untuk mengantisipasi potensi kejadian serupa di wilayah lain sewaktu-waktu. Kami juga berkoordinasi dan saling menghubungi dengan Damkar di kabupaten/kota terdekat untuk meminta bantuan,” jelas Lutfi.
Lebih lanjut, Lutfi mengungkapkan bahwa keterbatasan sarana ini juga memengaruhi response time di lapangan. Berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP), petugas ditargetkan tiba di lokasi dalam waktu 15 menit setelah laporan diterima. Namun, kondisi geografis Minahasa yang sangat luas terkadang membuat waktu tempuh menjadi lebih lama.
“Jarak dari ujung ke ujung wilayah yang sangat jauh terkadang memakan waktu lebih lama di perjalanan. Hal inilah yang kerap memicu persepsi di masyarakat bahwa petugas terlambat tiba di lokasi,” tambahnya.
Menyikapi kekurangan armada tersebut, Dinas Damkar Minahasa terus berupaya mencari jalan keluar. Ia menjelaskan bahwa pihaknya selalu mengusulkan penambahan unit armada baru, baik melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) maupun pengajuan bantuan ke Pemerintah Pusat.
Kendati harus bekerja di tengah berbagai keterbatasan, Lutfi memastikan bahwa komitmen jajarannya dalam melayani masyarakat adalah yang utama. Damkar Minahasa akan tetap berupaya maksimal untuk menangani setiap kejadian darurat yang dilaporkan oleh warga di seluruh wilayah Minahasa.
