”Data vs Realita: Benarkah Kemiskinan di Minahasa Turun atau Sekadar Laporan ABS?”
TONDANO, forummedia.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa baru-baru ini merilis klaim keberhasilan dalam menekan angka kemiskinan sepanjang tahun 2024. Namun, data statistik yang dipaparkan di atas kertas tersebut menuai sorotan tajam karena dianggap berbanding terbalik dengan kondisi ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat di akar rumput.
Dalam Konsultasi Publik Penyusunan Dokumen Rencana Penanggulangan Kemiskinan Daerah (RPKD) Tahun 2025-2029 yang digelar di Ruang Sidang Kantor Bupati, Selasa (27/05/2025), Wakil Bupati Minahasa, Vanda Sarundajang, SS, memaparkan pencapaian tersebut.
Berdasarkan data contributor OPD yang disampaikan, jumlah penduduk miskin di Minahasa pada tahun 2024 tercatat sebanyak 22.780 jiwa atau 6,53%. Angka ini diklaim menurun sebesar 1.080 orang jika dibandingkan dengan data tahun 2023 yang mencapai 23.860 jiwa (6,87%).
Meski angka statistik menunjukkan tren positif, redaksi forummedia.id memberikan catatan kritis terkait akurasi data tersebut. Muncul kekhawatiran diduga adanya budaya ABS (Asal Bapak Senang) di lingkungan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang berpotensi menyajikan laporan “manis” demi menyenangkan pimpinan.
Laporan yang seperti ini, dan realitas lapangan dinilai berbahaya karena dapat merugikan kebijakan Kepala Daerah dalam mengambil keputusan strategis.
Saat dikonfirmasi mengenai asal muasal data klaim tersebut, Kepala Dinas Kominfo Minahasa, Ricky Laloan, hanya memberikan jawaban singkat.
”Nanti konfirmasi dengan OPD lain, karena data itu bukan di Dinas Kominfo” ujarnya kepada forummedia.id.
Temuan Lapangan: 70% Rumah Tangga Mengaku Lebih Sulit
Berseberangan dengan data pemerintah, hasil sampel wawancara yang dilakukan wartawan forummedia.id terhadap berbagai rumah tangga di Minahasa menunjukkan potret yang kontras. Hampir 70% rumah tangga yang ditemui justru mengaku merasa angka kemiskinan meningkat di tahun 2025.
Warga mengeluhkan tiga faktor utama yang menghimpit ekonomi mereka:
Sulitnya mendapat pekerjaan: Minimnya lapangan kerja baru sejak covid-19.
Upah yang tidak sebanding: Pendapatan yang stagnan di tengah inflasi.
Harga bahan pokok: Lonjakan harga kebutuhan dapur yang tidak dibarengi dengan kenaikan daya beli.
Redaksi forummedia.id merangkum bahwa masih banyak “Warga Miskin Tersembunyi” yang hidup di bawah garis kemiskinan namun diduga tidak masuk dalam pendataan resmi. Budaya laporan berbasis angka makro dianggap menjadi jebakan yang menghambat pembangunan nyata di Minahasa.
Secara statistik, pertumbuhan ekonomi mungkin terlihat tinggi, namun jika fakta di lapangan menunjukkan banyak warga yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar, maka klaim penurunan kemiskinan tersebut perlu dikoreksi.
