Minahasa Butuh Inovasi, Bukan Sekadar Kerja Bakti
forummedia.id, Minahasa – Masalah persampahan di Kabupaten Minahasa telah menjadi krisis yang tidak bisa lagi diselesaikan hanya dengan ayunan sapu lidi atau mobil truk yang hilir mudik ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sejak era Bupati Stevanus Vreeke Runtu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa tampak terjebak dalam “Kerja Bakti Massal” setiap akhir pekan. Meski bernilai positif secara sosial, secara sistemik, rutinitas ini gagal menekan volume sampah yang terus menggunung.
Sudah saatnya eksekutif dan legislatif di Tanah Minahasa bersinergi melahirkan regulasi progresif yang menyentuh akar persoalan Pembatasan di Hulu.
Filosofi manajemen sampah yang modern bukan lagi tentang seberapa cepat kita memindahkan kotoran dari depan rumah ke TPA, melainkan seberapa mampu kita meminimalisir produksi sampah sejak dari dapur dan pabrik. Minahasa memiliki kekayaan kearifan lokal yang luar biasa. Penggunaan bahan alami seperti daun pisang, bambu, hingga anyaman serat alami seharusnya kembali menjadi primadona dalam aktivitas ekonomi warga.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Minahasa memegang kunci lewat Perda Inisiatif. Regulasi ini harus tegas melarang penggunaan plastik sekali pakai dan styrofoam di pasar tradisional, ritel modern, hingga jasa katering. Tanpa payung hukum yang mengikat, imbauan ramah lingkungan tidak akan ditakuti pelaku usaha.
Kita perlu mendorong inovasi kemasan lokal. UMKM di Minahasa harus difasilitasi untuk beralih ke material yang mudah terurai (biodegradable). Selain menjaga lingkungan, kebijakan ini akan menghidupkan kembali industri rumah tangga pengrajin anyaman dan bahan alami lokal.
Di sisi lain, edukasi perubahan perilaku adalah kewajiban. Masyarakat harus sadar bahwa sampah organik bukanlah musuh, melainkan aset jika dikelola menjadi pupuk untuk pemanfaatan lahan pekarangan. Konsep ekonomi sirkular ini jauh lebih efektif daripada mengandalkan penambahan armada truk sampah yang hanya menambah beban APBD terus- menerus.
Publik menunggu keberanian pemimpin daerah baik Kepala Daerah maupun anggota Dewan untuk keluar dari zona nyaman seremonial. Mengatasi krisis sampah butuh kreatifitas dan politik hukum yang memperketat regulasi lingkungan.
Minahasa butuh inovasi ramah lingkungan yang berani membatasi plastik di hulu dan menghidupkan kembali kearifan lokal di hilir. Sebab, kesuksesan manajemen sampah diukur dari seberapa sedikit sampah yang terbuang, Oleh: (Redaksi Forummedia.id)
