SKM Diduga Jadi Penyebab Keracunan Massal 19 Siswa SD di Langowan

Para siswa mengeluhkan gejala muntah-muntah, sakit perut, sakit kepala, dan badan lemas usai mengonsumsi jajanan dari bahan dasar (SKM) susu kental manis ini.

Berdasarkan keterangan para korban, insiden bermula saat mereka membeli susu kental manis yang diracik pada jam istirahat pukul 09.00 WITA.

Setelah mengonsumsi minuman tersebut, beberapa siswa mulai mengalami gejala seperti muntah-muntah, sakit perut, sakit kepala, dan tubuh lemas pada pukul 10.00 hingga 15.00 WITA.

Para orang tua segera membawa anak-anak mereka ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

Insiden ini kini dalam penanganan Polsek Langowan Barat. Kapolsek Langowan Barat IPDA J.S. Kaparang, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima laporan dari masyarakat pada pukul 16.00 WITA.

Menindaklanjuti laporan tersebut, personil Polsek Langowan Barat segera mendatangi dua rumah sakit tempat para siswa dirawat, yaitu RS Budi Setia Langowan dan RSUD Noongan.

“Di RS Budi Setia Langowan, terdapat 14 siswa yang mendapatkan perawatan, sementara di RSUD Noongan terdapat lima siswa. Nama-nama korban telah diidentifikasi oleh pihak kepolisian,” kata Kapolsek.

Dokter Jesica Sumilat dari RS Budi Setia Langowan dan dokter Melani dari RSUD Noongan menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan peningkatan leukosit dalam darah para pasien, yang diindikasikan akibat infeksi bakteri berbahaya.

Meski demikian, tidak ada korban jiwa, dan seluruh siswa kini dalam kondisi stabil.

Dalam interogasi, Yesi Irene Pesak mengaku bahwa susu kental manis yang dijual diolah dengan campuran air dan gula pasir, kemudian dikemas dalam gelas plastik.

Susu kental manis yang digunakan dibeli di toko.

Polisi telah mengamankan sejumlah barang bukti berupa sisa minuman.

Kasat Reskrim Polres Minahasa, AKP Edi Susanto, menyatakan bahwa pihaknya masih mendalami kasus ini untuk memastikan penyebab pasti keracunan.

“Kasus ini sepenuhnya ditangani oleh Polsek Langowan,” singkatnya.

Hingga berita ini diturunkan, penyelidikan masih terus berlanjut.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *