Beda Keyakinan Dalam Satu ‘Atap’

FORUMMEDIA.ID – Tondano, Ada empat orang anak remaja terjerumus dalam narkoba. Orang tua mereka berbeda-beda agama tapi tinggal di satu kompleks. Empat orang anak itu, juga tentu berbeda-beda agama. Tuhan yang diajarkan kepada mereka oleh agamanya masing-masing juga berbeda.

Dalam hal Tuhan, mereka berbeda. Tapi, narkoba mempertemukan mereka. Orang tua keempat anak remaja ini meski hidup di satu kompleks tapi karena berbeda agama, mereka tidak akrab, dan memang tidak mau saling kenal.

“Coba saja kalau mereka tidak tersekat oleh keyakinan agama, pasti mereka dapat bekerja bersama untuk mengatasi anak-anak mereka yang kecanduan narkoba,” ujar Pak Agus Basith, penganut Agama Bahai yang tinggal di Tondano itu.

Saya sudah dari beberapa tahun lalu mengenal Pak Agus dan istrinya ibu Bahia. Suami istri ini dan anak-anak mereka aktif dalam kegiatan-kegiatan lintas agama.

Cerita di atas adalah ilustrasi yang Pak Agus sampaikan selesai kegiatan Dialog Antar Agama yang difasilitasi oleh komunitasnya bersama komunitas keberagaman Minahasa yang diselenggarakan di sebuah rumah makan dekat Benteng Moraya Tondano, Sabtu 22 Oktober 2022. Pak Agus menyampaikan ilustrasi itu untuk menegaskan betapa pentingnya dialog dan kerja bersama antar umat berbeda agama.

“Komunitas keberagaman kami ini sudah dari tahun 2016,” kata Pak Agus.

Mereka yang aktif di komunitas keberagaman ini adalah beberapa pimpinan komunitas agama seperti Islam Ahmadiyah, Yahudi dan kepercayaan Laroma. Hal yang menarik, dari kalangan Kristen kebanyakan dari pimpinan gereja Kristen beraliran Pentakosta dan Kharismatik.

“Pak Agus, istrinya ibu Bahia serta anak-anak mereka bahkan pernah beribadah di gereja kami,” ujar seorang ibu yang mungkin pimpinan salah satu denominasi gereja yang sudah lama mengenal keluarga penganut agama Bahai ini.

“Kami penganut Bahai memang tidak mementingkan identitas agama,” kata Pak Agus.

Ibu Bahia secara ramah memandu kami peserta dalam sesi diskusi kelompok dan penyampain pokok-pokok hasil diskusi. Seorang perempuan yang tampaknya memahami betul pentingnya dialog antar agama dan tradisi religius.

Di masing-masing kelompok kami mendiskusikan kebajikan-kebajikan Bahai. Masing-masing kami merefleksikan hal-hal seperti kasih sayang, kejujuran, dan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang menjadi dasar ajaran semua tradisi religius.

Di suatu sudut ruangan, anak-anak rupanya juga sedang belajar bersama tentang kebajikan-kebajikan hidup menurut cara mereka. Saya lihat Kevin dan beberapa anak yang lain, juga dari agama yang berbeda sedang dituntun oleh seorang anak Pak Agus mendiskusikan makna cerita dari yang mereka baca.

Saya sudah sering sekali mengikuti kegiatan lintas agama. Namun, ada dua hal dalam kegiatan itu yang menarik dan inspiratif. Pertama, setiap orang hadir dengan identitas tradisi keagamannya tapi secara reflektif bersama-sama memikirkan tentang hal-hal yang sehari-hari tapi ternyata penting untuk dipikirkan ulang agar dapat memberi kontribusi pada kehidupan bersama. Kedua, bapak-bapak dan ibu dari kalangan Kristen beraliran Pentakosta, Kharismatik dan Advent di kegiatan ini ternyata dapat menjalin hubungan dialogis dengan mereka yang bermacam-macam agama dan tradisi religius lainnya.

“Satu kata kunci sebenarnya dari maksud kita beragama, yaitu cinta kasih,” ujar seorang bapak dari salah satu denominasi Kristen.

Inilah komunitas lintas agama dan tradisi religius yang menurut saya benar-benar sedang mempraktekkan dialog. Berbeda dengan dialog tokoh-tokoh agama yang hanya untuk menjalankan program kerukunan yang politis.

Sebab, dialog itu sejatinya adalah perjumpaan, saling kenal tentang apa yang diimani oleh masing-masing orang, dan kemudian berbagi komitmen untuk melanjutkan gerakan kehidupan bersama.

22 Oktober 2022

DenniĀ  Pinontoan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *