Susahnya Atau Mudahnya Meraih Gelar Doktor?
Susahnya atau Mudahnya Meraih Gelar Doktor?
Jujur saya akui saya merasa sedih dan prihatin sekali kalau melihat ada orang yang begitu mudahnya ujug-ujug mendapat gelar doktor (yang bukan “honoris causa”).
Padahal doktor adalah gelar akademik tertinggi. Semakin sedih dan prihatin kalau melihat orang yang mendapat gelar doktor itu tidak jelas sama sekali reputasi, kualitas, dan rekam jejak dalam dunia penelitian ilmiah dan penulisan akademis, sebuah syarat utama dan penting bagi penerima gelar doktor.
Kok bisa lembaga perguruan tinggi memberikan gelar akademik doktor untuk orang-orang yang nggak jelas sama sekali kualitas dan reputasi penelitian dan penulisan mereka?
Saya kira saya tidak sendirian. Banyak orang yang bertahun-tahun jungkir-balik studi, riset, dan menulis untuk meraih gelar doktor juga saya yakin akan merasakan hal yang sama.
Seperti yang saya alami. Untuk meraih gelar doktor di Boston University, Amerika Serikat, saya harus berjibaku menyelesaikan 16 mata kuliah selama dua tahun dengan daftar bacaan dan tugas-tugas yang menggunung (paper, review, homework dlsb).
Catatan: setiap kampus / universitas di Luar Negeri tidak sama dalam proses meraih doktor ini. Sistem Amerika dan Kanada berbeda dengan Eropa atau Australia yang mayoritas tidak ada model pengambilan mata kuliah.
Di Boston University, setelah menyelesaikan semua mata kuliah, mahasiswa doktor harus lulus ujian komprehensif yang mematikan. Di departementku, bentuk ujian komprehensif untuk mahasiswa doktoral adalah menyelesaikan / menulis enam paper (masing-masing paper sekitar 6-7 ribu kata) tentang teori-teori sosial dan topik-topik yang relevan dengan minat studi / riset mahasiswa tersebut (yang menentukan semua tema paper adalah beberapa tim inti pembimbing disertasi). Waktu yang diberikan untuk menulis 6 paper ini sekitar 10 hari saja! Jadi nyaris siang-malam tidak keluar ruangan.
Setelah selesai menulis paper-paper ini, mahasiswa kemudian diuji/disidang oral/lisan oleh sejumlah profesor. Kalau lulus ujian oral, tahap selanjutnya adalah menyusun proposal disertasi yang juga sangat menguras energi karena harus bolak-balik berdiskusi dengan penasehat akademik dan tim pembimbing disertasi.
Setelah proposal disetujui oleh pembimbing, proposal tersebut kemudian diujian secara oral lagi oleh tim / para profesor. Nah, kalau lolos ujian ini, maka mahasiswa tersebut berhak menyandang gelar “kandidat doktor”.
Setelah lulus ujian proposal disertasi, mahasiswa atau kandidat ini diharuskan penelitian lapangan minimal satu tahun. Saya pun dulu begitu. Setelah lulus ujian proposal disertasi, saya langsung terbang ke Ambon untuk riset selama setahun.
Selesai riset, tahap selanjutnya adalah menulis hasil-hasil riset itu (menyusus disertasi), dan ini memakan waktu yang sangat lama. Tergantung kemampuan menulis masing-masing individu. Lama menulis itu juga lantaran harus bolak-balik bimbingan dengan para pembimbing.
Saya butuh waktu berbulan-bulan menulis disertasi ini nyaris nonstop siang-malam di kamar sampai paleku nut-senut mau cah pecah hingga akhirnya dua pembimbing utama disertasi, Professor Robert Hefner dan Professor Augustus Richard Norton, setuju untuk diujikan dengan lima orang penguji sebelum akhirnya dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar doktor (PhD). Revisi disertasiku ini kelak menjadi sebuah buku dan diterbitkan oleh Routledge di London, UK.
Jadi sangat panjang dan berliku-liku sekali penuh dengan jalan terjal. Oleh karena itu, kesedihan dan keprihatinanku ini (dan juga teman-teman lain yang mengalami nasib serupa) sangat beralasan kalau melihat ada orang yang dengan cepatnya dan gampangnya mendapat / meraih gelar doktor seperti mau beli kecimpring saja.
Penulis:
Sumanto Al Qurtuby
Dosen Antropologi Budaya dan Kepala Scientific Research in Social Sciences, King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi. Ia memperoleh gelar doktor dari Boston University. Ia telah menulis lebih dari 17 buku, antara lain Religious Violence and Conciliation in Indonesia (London & new York: Routledge, 2016).
