Collab Jurnalis dan Disparbud: Aksi Nyata Jaga Kelestarian Sejarah di Minahasa
forummedia.id, TONDANO – Langkah nyata pembenahan ikon budaya di bawah kepemimpinan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) yang baru, Moudy Pangerapan, mulai membuahkan hasil signifikan pada awal 2026. Fokus pada pelindungan serta pengembangan kawasan cagar budaya kini menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
Upaya intensif yang dilakukan pada tahun ini menunjukkan perbedaan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Penataan aset budaya kini dilakukan secara lebih rapi, terstruktur, dan representatif guna mengembalikan marwah situs-situs bersejarah di Minahasa.

Pada Jumat (13/03/2026), kawasan Benteng Moraya tampil berbeda. Situs sejarah kebanggaan masyarakat Minahasa ini terlihat lebih asri dan bersih berkat aksi kerja bakti massal yang mengusung semangat Mapalus (gotong royong).
Moudy Pangerapan, birokrat tegas lulusan APDN Bandung kelahiran Tondano ini, turun langsung memantau jalannya pembersihan. Ia memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kolaborasi ini.
”Apresiasi setinggi-tingginya untuk teman-teman wartawan, pemandu wisata, serta jajaran Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Damkar, BPKAD, serta rekan-rekan internal Disparbud yang telah berkolaborasi dengan hati dan tenaga,” ujar Moudy.
Menurutnya, aksi ini bukan sekadar agenda rutin kebersihan, melainkan manifestasi nyata dari kecintaan terhadap akar sejarah Minahasa. “Kebersamaan ini adalah wujud cinta kita pada sejarah. Mari kita terus menjaga Benteng Moraya sebagai simbol kebanggaan bersama,” tambahnya.
Usai dengan pembersihan kawasan, nuansa kebersamaan berlanjut di meja makan. Semangat pelestarian budaya ternyata tidak hanya berhenti pada fisik bangunan, tetapi juga merambah ke pelestarian kuliner lokal.
Para peserta kerja bakti disuguhi hidangan khas Minahasa, mulai dari Tinutuan, milu rebus, hingga aneka umbi-umbian seperti ubi manis dan ubi bete. Tak ketinggalan, mie kuah cakalang dengan aroma sambal roa yang khas melengkapi suasana kekeluargaan tersebut. Momen ini menegaskan bahwa identitas Tou Minahasa tetap menyatu, baik dalam bekerja maupun saat bersantap.
Benteng Moraya kini tampak berseri, seolah mengirimkan pesan bahwa warisan leluhur akan tetap lestari selama dijaga dengan tangan-tangan yang peduli. Melalui kepemimpinan yang progresif dan dukungan masyarakat, ikon budaya ini diharapkan tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga pusat edukasi sejarah yang membanggakan bagi generasi mendatang. (Redaksi FM)
